A Present For Her Bagian Akhir

“…Bagaimana? ‘So sweet’ ‘kan~ Hehe~ Dengan ini, saya nyatakan saya sudah siap untuk memberikan kado tersebut untuknya. Dan, apakah yang terjadi saat saya berada di rumahnya, berhadapan langsung dengannya, dan memberikan kado tersebut?”

Oke, kita akhirnya sampai juga di part terakhir dari trilogi (heh?) ‘kisah-pemberian-kado’ ala Agung Rangga. Sudah siap untuk membacanya? Jangan lupa sediakan tisu yang banyak~ (lho?)

* * * * *

Segera setelah membuat kartu ucapan yang tingkat romantismenya mirip ucapan hari Valentine itu, saya langsung meluncur ke kamar mandi. Byar-byur~ Setiap inci dari tubuh saya saya bersihkan dengan baik. Untuk apa? Ya supaya penampilan saya terkesan dong di sana~ (hohoho~)

Selesai membersihkan tubuh, beranjak ke lemari pakaian. Hmm~ Karena saya benci memakai baju berjenis ‘kemeja’ (kecuali buat sekolah doang~), maka saya ambil t-shirt (kaos) berwarna hitam. Dan, karena ini cuma kunjungan santai, saya hanya memakai celana simple ¾ berwarna senada.

Selesai berpakaian, segera saya ke dapur (lho? ngapain???). Hanya untuk minum segelas air putih kok~ (gubraaak~) Ya, percaya atau tidak, air putih bisa meredakan emosi yang berlebihan di tubuh dan pikiran kita. (ooh~)

Ya sudah, karena waktu (kira-kira) sudah menunjukan pukul 4 sore, maka saya pacu kendaraan saya (sebuah sepeda motor) menuju rumahnya Made. Hehe~ Karena jaraknya tidak terlalu jauh, maka sebentar juga sudah sampai~

(dagdigdugdagdigdug~) Yap, inilah saat-saat paling mendebarkan. Tepat di depan pagar rumahnya, saya menghentikan kendaraan saya. Saya bilang, “Om Swastiastu~” (salam dalam agama Hindu), lalu ada yang menyahut dari dalam rumah. Made!!!

Saya pun dipersilakan masuk olehnya, dan ternyata di sana ada ibu, kakak perempuan, dan adik laki-lakinya yang aktif. Waaaks! Saya langsung diajak bercanda dengan adik laki-lakinya pas baru masuk ke rumahnya!

Ahahaha~ Adiknya yang kecil itu memang sangat aktif, dan jail! Masa’ sendal saya disembunyikan, bahkan hampir aja ditaruh di selokan~ (waduh~) Tapi, gak apa-apa, ‘kan namanya juga masih anak-anak, ya wajarlah~

Tapi, gak lama setelah saya masuk ke rumahnya, eh, ibu, kakak, dan adiknya mau pergi. Katanya, mau membelikan adiknya jam tangan ke pusat perbelanjaan di dekat rumahnya. Dan praktis, kini hanya ada saya, Made, dan mbak-mbak pengasuh adiknya.

Oke, kami berdua (saya dan Made) duduk di sofa di ruang tamu rumahnya. Kami mulai membicarakan tentang kabar masing-masing, kabar keluarga, kabar mengenai temannya, dan kabar sekolahnya. (hoaaahm~)

Ya, itu merupakan topik obrolan yang sangat-sangat (sekali lagi, SANGAT) biasa saja. Aduuuh~ Ya mau bagaimana lagi, saya ‘kan ‘kurang pandai’ untuk mencari topik pembicaraan yang bagus, apalagi, saya sering gugup (walau gak gugup-gugup banget~) di depan dia.

Eh, tak lama kemudian, si mbak-mbak pengasuh adiknya bilang kalau dia mau keluar rumah. Waaaw! Berarti kami berdua ditinggalkan ‘berdua’ di sini! (panik, panik, panik~)

Demi mencairkan suasana, kami memutuskan untuk berpindah lokasi mengobrol, dari ruang tamu, ke teras rumah. Nah, di sini mungkin lebih nyaman untuk mengobrol dengannya. Suasana di rumahnya sangat asri, rindang, dan bersih.

Oke, saya pun memberanikan diri dengan segenap kekuatan jiwa dan raga (ya ampun, lebaynya~) untuk memulai obrolan kami. Saya mulai menanyakan bagaimana ulangan kenaikan kelas di sekolahnya, terus, bagaimana dengan pelajarannya.

Dan terus-menerus, kami pun larut dalam perbincangan dan suasana yang menyenangkan. Sesekali kami tertawa bareng, menceritakan guru-guru yang aneh di sekolah masing-masing. Dan, melihat wajahnya yang tertawa seperti itu, hmm~

Ya, walaupun lebih banyak dia yang memulai pembicaraan, saya tidak merasa ‘gimana gitu’ (apaan coba???). Ya, yang penting, perbincangan kami tetap bisa lanjut. Dan, ternyata, sudah hampir 1 jam kami berbincang-bincang.

Ibu, adik dan kakaknya pun datang. Si mbak-mbak-nya juga. Dan, ternyata ada 2 orang tamu lagi (paman dan bibinya) yang datang. Ya, langit sore mulai menghilang. Dan, ahh~ Saya masih belum ingin pertemuan kami hari ini berakhir~

Tapi, ya sudah lah. Lagi pula, sudah mau jam setengah 6 sore. Saya pun pamit pulang, dan berkata pada Made sambil menunjuk kado + amplop berisi kartu ucapan yang ada di atas sofanya, “De, itu ada sesuatu untukmu, maaf ya telat~”.

“Yah, gak apa-apa, ‘kan bulan(ulang tahun)nya belum lewat, jadi masih bisa diterima~ Hahaha~”. Mendengar kata-katanya, membuatku sedikit lega. Karena, akhirnya saya bisa menyerahkan kado tersebut ke dia (setelah seminggu menunggu hari ini).

Saya pun pamit ke semua orang di rumahnya. Pas mau memacu kendaraan saya, saya berpesan pada Made, “De, jangan lupa, ada kartu di sana, baca ya” (dengan tampang cuek yang canggung). “Iya, sip~ Hati-hati ya~,” balasnya, dan saya pun pulang.

* * * * *

Oke, hari itu adalah salah satu hari terindah dalam hidup saya. Dan, saya telah berjanji padanya akan sesuatu. Kamu masih ingat kalimat dalam kartu yang saya ceritakan di part sebelumnya? Itulah janji saya padanya~

Iklan