A Present For Her The Series – Beginning

Pernah membeli sesuatu yang bukan untuk dirimu sendiri? Maksudku, sesuatu seperti hadiah ulang tahun. Ya, mungkin ini hal yang biasa, tapi… Ini menjadi tidak biasa, karena yang ulang tahun adalah, dia…

Halo, selamat berakhir pekan semuanya~ Gak terasa ya, saya akhir-akhir ini jadi jarang ngeblog & jarang berkunjung ke blog-blog kawan. Tapi, mau bagaimana lagi, banyak sekali kesibukan saya di dunia nyata yang harus saya selesaikan~ (sok sibuk!)

Oh iya, kali ini, saya ingin memberitahukan suatu hal yang sangat-sangat membuat saya bahagia tak terkira. Ya, ini berkaitan dengan foto di atas! Kira-kira, foto apa itu? Hmph~ Itu foto kado + kartu ucapan bikinan sendiri. (buat siapa tuh~)

Hehe~ Hari minggu lalu, saya bersama keluarga iseng-iseng jalan-jalan ke mall yang ada di kota Bekasi (Metropolitan Mall, tau ‘kan?). Ya, itu disebabkan karena salah satu adik saya yang pertama (cewek, namanya Dewi) berulang tahun, dan dia minta agar ditemani ke mall itu.

Singkat cerita, setelah kami sekeluarga sampai di mall, kami segera menuju ke toko buku (Gramedia). Di sana adik saya itu beli komik Miiko karya Ono Eriko sampai 3 buah, dan saya sendiri hanya beli novel yang berjudul “Autumn in Paris” karya Ilana Tan (sumpah, novelnya keren banget!).

Saat saya mengambil novel itu, tiba-tiba ayah saya menyenggol saya dan berbisik “si Made gak dibelikan kado? ‘kan kemarin dia ulang tahun~” (belum tahu ‘Made’ siapa? baca notes kategori PopLove!).

Denggg… Eh iya ya, kenapa gak kepikiran buat ngasih si dia hadiah ya… Tapi, hadiah apaan nih?! Ya, saya pun mondar-mandir di toko buku itu, sambil mencari sesuatu yang ‘pantas’ dijadikan hadiah untuk si dia.

Dan, karena sudah hampir 30 menit kami di dalam toko buku (dan saya juga belum dapat hadiah yang cocok~), maka saya memutuskan untuk mencari hadiah yang lain saja di luar nanti. Akhirnya, setelah keluar dari toko buku, adik saya yang paling kecil (namanya Arya) minta pergi ke lantai atas, tempat arena permainan.

Kurang lebih, kami menghabiskan waktu 1 jam di arena permainan itu. Yah, walaupun hanya permainan biasa (seperti ‘ding-dong’ gitu~), tapi cukup ‘lah untuk melepas lelah habis UKK (ya, walaupun besoknya harus ikut UKK bagian ke dua~).

Setelah puas bermain, kini saya mulai berburu hadiah untuk dia. Hmm~ Satu-per-satu toko hadiah yang ada di lantai itu saya kunjungi. Ya, berburu hadiah untuk perempuan memang mudah, tapi, yang cocok itu susah! (apa coba maksudnya~)

Setelah capek berburu, akhirnya ketemu juga satu barang yang cocok dijadikan hadiah! Boneka beruang warna abu-abu, yang sedang memegang hati berwarna merah bertuliskan “I Love You” (ya, kira-kira begitu, cuma, saya udah agak lupa~).

Setelah melihat harganya, dan saya merasa cocok, maka segeralah saya meminta si penjaga toko agar segera dibungkus pakai kertas kado. Dan tak perlu tunggu lama, maka pesanan saya jadi. Boneka beruang tadi sudah terbungkus rapi dalam kertas kado dengan motif lucu. (aih, aih~)

Setelah itu, kami memutuskan untuk pulang. Di perjalanan pulang, lagi-lagi ayah saya bertanya mengenai suatu hal yang penting, tapi tak teduga, “kapan mau dikasih?”. JEDEEERRR!!! Saya pun langsung pucat~

Hwadoooh~ Kapan nih waktu yang tepat buat ngasih kadonya ke dia??? Padahal, hari ulang tahunnya ‘kan udah lewat beberapa hari!!! Dan, apakah saya sanggup untuk berkunjung ke rumahnya & memberikan kado ini??? WAAA!!!

A Present For Her Part II

Hwadoooh~ Kapan nih waktu yang tepat buat ngasih kadonya ke dia??? Padahal, hari ulang tahunnya ‘kan udah lewat beberapa hari!!! Dan, apakah saya sanggup untuk berkunjung ke rumahnya & memberikan kado ini??? WAAA!!!”

Halo, selamat siang. Hari ini saya akan menuliskan lanjutan ‘kisah-pemberian-kado’ dari notes sebelumnya. Yah, karena saya agak malas nulis panjang-panjang, maka ceritanya saya bagi jadi 3 bagian. Jangan lupa baca semua part-nya ya!

* * * * *

Besoknya (hari senin), saya berniat untuk memberikan kado itu ke dia (Made). Tapi, mungkin karena alasan bahwa hari ini (senin) sampai rabu saya masih ada ujian kenaikan kelas (UKK), maka saya urungkan niat itu.

Ya, saya pikir, nanti sajalah ngasihnya, pas saya sudah selesai UKK. Hmm~ Memang sih, agak ‘gak logis’ alasannya. Tapi, hei! Butuh keberanian lebih loh untuk berhadapan langsung dengannya dan orang rumahnya!

Tapi, gak tau kenapa, setelah UKK selesai (tepatnya hari kamis & jumat), saya juga masih belum punya keberanian untuk ‘pergi ke rumahnya, lalu mengobrol sebentar, memberikan kadonya, dan pulang dengan hati yang berbunga-bunga’.

Ya, perlu kamu ketahui, bahwa jarak antara rumah kami berdua tidak terlalu jauh. Bahkan, bisa dibilang hanya beberapa ratus meter saja. Dan, saya rasa, tak perlulah kalau sampai mengirimkan kadonya lewat jasa pengiriman barang/pos~ (ya iyalah, maksa amat!)

Belum lagi, orang tua saya juga udah mendesak-desak, “kapan mau kasih kadonya?”, “udah basi loh kadonya~”, “eh, ulang tahunnya ‘kan udah lewat lama banget~”, “udah belum kasih kadonya?”, dan masih banyak lagi serbuan pertanyaan seperti itu ke saya. (geleng-geleng~)

Yang lebih parahnya lagi, teman-teman 1 geng saya (Fani, Yunas, & Yogas) juga mau ikut pas nanti saya memberi kado ke Made?! Waduh~ Saya aja gak tau mau kasih kadonya kapan, malah mereka kayaknya pengen banget ikut ke rumahnya Made! (katanya sih mau kasih dukungan ke saya~)

Namun, esoknya (sabtu) saya putuskan untuk memberi kadonya hari ini. Ya, karena urusan di sekolah sudah beres (dan saya sudah melalui beberapa mata pelajaran yang diremedial), maka saya mulai mengumpulkan keberanian saya.

Siangnya sekitar jam 12-an, saya mengirim pesan singkat ke Made : “De, kamu ada di rumah?”. Tak lama kemudian pesan saya dibalas olehnya : “Ada kok . . .” (saya gak tau, kenapa di akhir pesan dari dia, hampir selalu saja ada ‘titik-titik-yang-memakai-spasi’~).

Segera setelah mendapatkan pesan itu, saya langsung merasa sangat senang. Itu artinya, saya bisa memberikan kadonya hari ini! Dan, tunggu dulu! Ada satu yang kelupaan! Hmm~ Kalau ada kado, dan kadonya sudah terbungkus rapi, bagaimana kalau diberi tambahan sedikit? Yap, ‘kartu ucapan’!

Hohoho~ Setelah menyantap makan siang hari itu, saya bergegas mengambil semua peralatan saya. Karton putih kecil, penggaris, pensil, penghapus, pensil warna, dan gunting. Yap, saya akan membuat kartu ucapan yang paling spesial untuk dia!

Dan, tak membutuhkan waktu lama (kira-kira hanya 1 jam~), saya berhasil membuat kartu ucapan. Bentuknya seperti yang ada di gambar pembuka di atas, ada yang bisa menerka-nerka apa bentuk kartu tersebut?

Yap, hati. Tapi, bentuk hatinya saya ubah sedikit. Dan, percaya atau tidak, bila kartu itu dibuka, maka bentuk hati itu akan menjadi inisial huruf ‘M’, yaitu huruf pertama namanya, Made. Isi kartu tersebut, yaitu :

  1. Halaman pertama (cover depan) : Tulisan surat ini ditujukan untuk siapa.
  2. Halaman kedua (isi dalam – kiri) : Ucapan selamat ulang tahun.
  3. Halaman ketiga (isi dalam – kanan) : Gambar bunga + kata-kata seperti ini : “Kamu pasti menungguku untuk mengatakan kalimat itu ‘kan? Tenang, aku akan segera mengatakannya begitu kita hanya berdua di sana…”
  4. Halaman keempat (cover belakang) : gambar boneka beruang abu-abu yang seperti ada di dalam kado + kalimat : “hug me when you cry…”

Bagaimana? ‘So sweet’ ‘kan~ Hehe~ Dengan ini, saya nyatakan saya sudah siap untuk memberikan kado tersebut untuknya. Dan, apakah yang terjadi saat saya berada di rumahnya, berhadapan langsung dengannya, dan memberikan kado tersebut?

A Present For Her Bagian Akhir

“…Bagaimana? ‘So sweet’ ‘kan~ Hehe~ Dengan ini, saya nyatakan saya sudah siap untuk memberikan kado tersebut untuknya. Dan, apakah yang terjadi saat saya berada di rumahnya, berhadapan langsung dengannya, dan memberikan kado tersebut?”

Oke, kita akhirnya sampai juga di part terakhir dari trilogi (heh?) ‘kisah-pemberian-kado’ ala Agung Rangga. Sudah siap untuk membacanya? Jangan lupa sediakan tisu yang banyak~ (lho?)

* * * * *

Segera setelah membuat kartu ucapan yang tingkat romantismenya mirip ucapan hari Valentine itu, saya langsung meluncur ke kamar mandi. Byar-byur~ Setiap inci dari tubuh saya saya bersihkan dengan baik. Untuk apa? Ya supaya penampilan saya terkesan dong di sana~ (hohoho~)

Selesai membersihkan tubuh, beranjak ke lemari pakaian. Hmm~ Karena saya benci memakai baju berjenis ‘kemeja’ (kecuali buat sekolah doang~), maka saya ambil t-shirt (kaos) berwarna hitam. Dan, karena ini cuma kunjungan santai, saya hanya memakai celana simple ¾ berwarna senada.

Selesai berpakaian, segera saya ke dapur (lho? ngapain???). Hanya untuk minum segelas air putih kok~ (gubraaak~) Ya, percaya atau tidak, air putih bisa meredakan emosi yang berlebihan di tubuh dan pikiran kita. (ooh~)

Ya sudah, karena waktu (kira-kira) sudah menunjukan pukul 4 sore, maka saya pacu kendaraan saya (sebuah sepeda motor) menuju rumahnya Made. Hehe~ Karena jaraknya tidak terlalu jauh, maka sebentar juga sudah sampai~

(dagdigdugdagdigdug~) Yap, inilah saat-saat paling mendebarkan. Tepat di depan pagar rumahnya, saya menghentikan kendaraan saya. Saya bilang, “Om Swastiastu~” (salam dalam agama Hindu), lalu ada yang menyahut dari dalam rumah. Made!!!

Saya pun dipersilakan masuk olehnya, dan ternyata di sana ada ibu, kakak perempuan, dan adik laki-lakinya yang aktif. Waaaks! Saya langsung diajak bercanda dengan adik laki-lakinya pas baru masuk ke rumahnya!

Ahahaha~ Adiknya yang kecil itu memang sangat aktif, dan jail! Masa’ sendal saya disembunyikan, bahkan hampir aja ditaruh di selokan~ (waduh~) Tapi, gak apa-apa, ‘kan namanya juga masih anak-anak, ya wajarlah~

Tapi, gak lama setelah saya masuk ke rumahnya, eh, ibu, kakak, dan adiknya mau pergi. Katanya, mau membelikan adiknya jam tangan ke pusat perbelanjaan di dekat rumahnya. Dan praktis, kini hanya ada saya, Made, dan mbak-mbak pengasuh adiknya.

Oke, kami berdua (saya dan Made) duduk di sofa di ruang tamu rumahnya. Kami mulai membicarakan tentang kabar masing-masing, kabar keluarga, kabar mengenai temannya, dan kabar sekolahnya. (hoaaahm~)

Ya, itu merupakan topik obrolan yang sangat-sangat (sekali lagi, SANGAT) biasa saja. Aduuuh~ Ya mau bagaimana lagi, saya ‘kan ‘kurang pandai’ untuk mencari topik pembicaraan yang bagus, apalagi, saya sering gugup (walau gak gugup-gugup banget~) di depan dia.

Eh, tak lama kemudian, si mbak-mbak pengasuh adiknya bilang kalau dia mau keluar rumah. Waaaw! Berarti kami berdua ditinggalkan ‘berdua’ di sini! (panik, panik, panik~)

Demi mencairkan suasana, kami memutuskan untuk berpindah lokasi mengobrol, dari ruang tamu, ke teras rumah. Nah, di sini mungkin lebih nyaman untuk mengobrol dengannya. Suasana di rumahnya sangat asri, rindang, dan bersih.

Oke, saya pun memberanikan diri dengan segenap kekuatan jiwa dan raga (ya ampun, lebaynya~) untuk memulai obrolan kami. Saya mulai menanyakan bagaimana ulangan kenaikan kelas di sekolahnya, terus, bagaimana dengan pelajarannya.

Dan terus-menerus, kami pun larut dalam perbincangan dan suasana yang menyenangkan. Sesekali kami tertawa bareng, menceritakan guru-guru yang aneh di sekolah masing-masing. Dan, melihat wajahnya yang tertawa seperti itu, hmm~

Ya, walaupun lebih banyak dia yang memulai pembicaraan, saya tidak merasa ‘gimana gitu’ (apaan coba???). Ya, yang penting, perbincangan kami tetap bisa lanjut. Dan, ternyata, sudah hampir 1 jam kami berbincang-bincang.

Ibu, adik dan kakaknya pun datang. Si mbak-mbak-nya juga. Dan, ternyata ada 2 orang tamu lagi (paman dan bibinya) yang datang. Ya, langit sore mulai menghilang. Dan, ahh~ Saya masih belum ingin pertemuan kami hari ini berakhir~

Tapi, ya sudah lah. Lagi pula, sudah mau jam setengah 6 sore. Saya pun pamit pulang, dan berkata pada Made sambil menunjuk kado + amplop berisi kartu ucapan yang ada di atas sofanya, “De, itu ada sesuatu untukmu, maaf ya telat~”.

“Yah, gak apa-apa, ‘kan bulan(ulang tahun)nya belum lewat, jadi masih bisa diterima~ Hahaha~”. Mendengar kata-katanya, membuatku sedikit lega. Karena, akhirnya saya bisa menyerahkan kado tersebut ke dia (setelah seminggu menunggu hari ini).

Saya pun pamit ke semua orang di rumahnya. Pas mau memacu kendaraan saya, saya berpesan pada Made, “De, jangan lupa, ada kartu di sana, baca ya” (dengan tampang cuek yang canggung). “Iya, sip~ Hati-hati ya~,” balasnya, dan saya pun pulang.

* * * * *

Oke, hari itu adalah salah satu hari terindah dalam hidup saya. Dan, saya telah berjanji padanya akan sesuatu. Kamu masih ingat kalimat dalam kartu yang saya ceritakan di part sebelumnya? Itulah janji saya padanya~

Valentine Day

tersenyum dalam ketulusan

membuatku melangkah kembali dikeputusasaan

sirami aku dengan kasih sayangmu

siangi aku dengan hangat cintamu

rangkul aku dalam hangat tulusmu

tenggelamkan aku dalam bahagia bersamamu

yang kau beri, tak seperti yang lain beri

 

namamu ada dihati

terpatri harum di lembaran kayu jati

beralunkan nyanyian yang kau nyanyikan 17 tahun dulu

ditepuki kasih sayang tulusmu yang lembut

 

lembut mu disaat bimbang

genggam tanganku saat badai disisi

ku terjatuh kau angkat kembali

puji aku seakan aku paling perkasa

 

kau sebutkan namaku

kau selalu sebutkan namaku

dalam tengadah tanganmu kepada tuhan

kau teteskan airsucimu dihadapan tuhan hanya untukku

 

Valentine ini tak kosong

kasih sayangmu selalu hangat dalam relung dada

degap jantungku mengingat jasamu

telapak kakimu suci dalam kotor kepalaku

 

dihari yang dianggap suci ini

aku tuliskan sebuah ucapan terimakasihku

atas jasamu yang benarbenar selalu meniupi angin segar padaku

selalu saja tanpa apapun kau minta

 

aku tuliskan sebuah ucapan cinta

atas cintamu yang benarbenar kokoh

tak sebanding tembok cina yang rapuh

 

aku lantunkan sebuah nada sendu

atas maafku menyakitimu selama ini

yang kau ucapkan tak apa tak apa membuat hati ini merintih

 

untukmu wanita terhebat dihati

terima kasih

ibu

aku cinta kamu